Kuliner Malam Jumat: Menikmati 50 Lauk dan 25 Nasi Kucing di Angkringan Jaman Edan

Tue, 23 Apr 2019 10:00
453
Kuliner Malam Jumat: Menikmati 50 Lauk dan 25 Nasi Kucing di Angkringan Jaman Edan

Ada banyak hal menarik dari Yogyakarta, termasuk bagi penyuka kuliner. Salah satunya adalah warung angkringan. Warung yang dikenal dengan menu andalan nasi kucing atau sego kucing ini memang banyak dijumpai di daerah lain di Indonesia.

 

Namun, rasanya kurang afdal kalau tak merasakan dan menyantap nasi kucing di Yogya. Kita bakal banyak menjumpai warung atau kedai angkringan di salah satu Daerah Istimewa di Indonesia ini. Dengan pesaing yang begitu banyak, tentu warung angkringan harus punya ciri khas khusus yang membuatnya mudah dikenali dan diingat.

 

Kedai Angkringan Jaman Edan sepertinya masuk dalam kategori tersebut. Namanya saja sudah banyak menarik perhatian. Kenapa dinamakan Jaman Edan? Menurut sang pemilik, Ni Luh Renasih, pemilihan nama itu datang dari salah seorang sahabatnya dan tercetus begitu saja.

 

"Jadi teman saya ada yang kasih usul nama itu, dan saya terima usulan itu, nggak ada maksud apa-apa sih, tapi biar gampang diingat aja. Ya, ternyata kita bisa berjalan dengan baik selama tiga tahun ini," ungkapnya pada Liputan6.com, beberapa waktu lalu.

 

Kehadiran seorang perempuan dari Bali yang sukses membuka warung angkringan di Yogya ini memang termasuk unik. Ibu Ni Luh sendiri sudah lama tinggal di Yogya. Ia meninggalkan Bali untuk mengikuti keluarganya ke kota Gudeg tersebut.  Ia pernah membuka usaha di bidang mebel selama beberapa tahun.

 

"Saya pernah lama punya usaha di bidang mebel, tapi kemudian tutup karena bisnis di mebel lagi menurun sekali. Setelah itu saya sempat buka usaha kecil-kecilan dengan membuat ayam betutu, tapi berdasarkan pesanan saja," tuturnya.

 

Masakan buatannya ternyata cukup laris dan disukai. Ia pun kembali tergerak membuka usaha di bidang kuliner yang tak sempat terwujud saat masih tinggal di Bali. Berangkat dari hobi memasak serta jiwa wirausaha, Ni Luh memantapkan diri untuk membuka usaha warung makanan.

 

Ia memlih angkringan karena dianggap lebih simpel dan sudah jadi ciri khas Yogya. Ni Luh sadar betul, warung angkringan sudah menjamur sehingga ia harus punya ciri dan karakter yang kuat. Ia pun tak mau tanggung-tanggung dalam menjalankan usaha.

 

Banyak Pilihan Makanan

 

Ia membuka tempat yang cukup besar yang pernah jadi kantor sebuah perusahaan telekomunikasi. Namun bukan itu saja kelebihan warung yang lokasinya dekat kawasan Tugu dan Malioboro ini.

 

Tempat makan ini memakai konsep foodcourt, menawarkan aneka kuliner dari tradisional hingga kekinian dan buka 24 jam. Selain angkringan, ada banyak tempat makan lain di tempat ini.

 

Apa saja pilihan kulinernya? Ada sate klathak, kerang blenger, sop buntut, ayam bakar Bu Menuk, coffee kedai toraja, BBQ, hingga nasi rawon dan mi lethek Bantul Mbah Mendes.

 

Kita bisa menyantap makanan dari gerai-gerai tersebut di meja makan yang cukup banyak dan luas di Angkringan Jaman Edan. Tapi beragam gerai makanan tersebut tidak buka 24 jam, biasanya mereka hanya buka dari siang sampai malam hari saja. Meski begitu, daya tarik utamanya tetap berbagai menu yang ada di angkringan.

 

"Saya mau usaha ini makin berkembang, makanya saya bikin konsep seperti foodcourt. Ada beberapa tempat makan yang bisa buka usaha di sini tapi sajian utamanya tetap angkringan," jelasnya. Tak hanya enak dan murah meriah, ada banyak pilihan makanan di Angkringan Jaman Edan.

 

Harga Belum Pernah Naik

 

Nasi kucingnya saja ada beberapa macam, seperti sambal teri, oseng tempe, oseng ati, oseng jamur, mercon jamur, sambal tomat, bahkan ada nasi goreng, rendang, dan masih banyak lagi. Selain gorengan, aneka lauk lain juga tersedia seperti satai telur puyuh, telur gulung, satai usus, dan satai keong.

 

"Kita punya lebih dari 50 macam lauk dan 25 lebih menu nasi kucing, pilihannya banyak dan harganya terjangkau. Dari awal buka di 2016 sampai sekarang, kita belum pernah menaikkan harga, karena kita mau punya banyak pelanggan," ucap Ni Luh yang juga menjadi kasir di warung miliknya ini.

 

Sedangkan lauk yang banyak diminati, di antaranya ada telur puyuh, sate keong, telur gulung dan nasi teri kacang. Sedangkan untuk minuman, ada wedang susu, wedang tape dan kopi jos.

 

Untuk harga, satu porsi nasi kucing mulai dari Rp 3500 serta Rp 7 ribu untuk porsi besar, dan untuk lauk mulai dari Rp 3 ribu.

 

Kedai ini juga pernah dikunjungi mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Desember 2018. Ditemani Ibu Ani Yudhoyono, SBY bersama rombongan menyantap berbagai menu di Angkringan Jaman Edan di malan hari.

 

Menu Makanan SBY

 

Kedatangan Presiden ke-6 Republik Indonesia ini sempat membuat heboh pengunjung lainnya dan warga sekitar. Usai makan banyak yang berebut swafoto dengan SBY baik sebelum maupun sesudah bersantap.

 

"Pak SBY makan nasi goreng sama telur ceplok dan minum wedang tape ketan," ujar Ni Luh yang mengakui warungnya makin dikenal setelah disinggahi rombongan SBY.

 

Tempat makan ini juga sering jadi tempat berkumpul sejumlah komunitas terutama di malam hari atau akhir pekan. Biasanya mereka berkumpul di meja di pinggir trotoar sambil menikmati makanan maupun minuman hangat di Angkringan Jaman Edan.

 

Walaupun usahanya sudah terbilang cukup maju, Ni Luh tak mau cepat puas. Ia sudah menyusun sejumlah rencana, seperti membuat menu-menu baru yang diharapkan bakal lebih disukai para pengunjung warung Angkringan miliknya. Salah satunya menyediakan menu ayam betutu khas Bali yang akan membuat Angkringan Jaman Edan lebih kaya rasa, unik dan beda dari tempat angkringan lainnya di Yogya.

 

Sumber: Liputan6

Kuliner Malam Jumat Angkringan Jaman Edan di Yogya 2. Liputan6.com Henry
Kuliner Malam Jumat Angkringan Jaman Edan di Yogya 3. Liputan6.com Henry
Kuliner Malam Jumat Angkringan Jaman Edan di Yogya 4. Liputan6.com Henry

Last Update

Latest Review

Review of Bari - Uma Ramen

Posted by Reski .
on 23 Jan 2019
hy
hh...